Beberapa hari menjelang pengumuman tes SBMPTN, aku lebih giat berdoa, berharap benar-benar bisa mendapatkan satu kursi di UPN. Malam itu, didalam kamar, setelah melaksanakan sholat sunnah, aku menangis dalam keheningan. Aku menutup wajah dengan peci, bersujud merasakan betapa lemahnya menjadi seorang hamba yang tidak sempurna. Aku merenung, entahlah, akhir-akhir ini aku memang sangat menginginkan bisa masuk bangku perkuliahan seperti apa yang aku harapkan, tetapi aku sadar, aku hanya benar-benar "serius" berdoa saat menjelang pengumuman itu tiba. Padahal, jauh-jauh hari sebelum mengikuti SBMPTN, aku berdoa sesempatnya saja, bahkan aku juga sering tidak berdoa setelah selesai sholat. Aku merasa sangat berdosa, sangat menyesal, sangat tidak berdaya. Aku terlalu lemah untuk tetap bernafas di dunia. Tuhan, aku menjadi seperti ini karena tidak tahu diri, atau telah melupakan keberadaan-Mu? Cepat jawab Tuhan. Aku kacau, sulit mengendalikan diri. A...
Sempat gelisah karena tahun 2017 adalah akhir dari masa SMA, dan merupakan awal masa kuliah ku. Berpisah dengan teman yang telah begitu akrab terasa menyedihkan. Berharap bahwa ketika sudah mulai kuliah, juga akan mempunyai banyak teman yang asyik seperti waktu SMA. Pertama sebelum benar-benar mengakhiri masa SMA, pikiran ku fokus pada keinginan universitas mana yang akan aku tempuh nanti. Aku berpikir, bahwa Universitas Pembangunan Nasional “veteran” Jawa Timur atau biasa disebut UPN adalah perguruan tinggi yang cukup baik. Aku ingin menempuh pendidikan disana dengan mengambil jurusan Agribisnis di fakultas pertanian. Lokasinya pun berada di Surabaya, yang mana tidak jauh dari rumah ku yang berada di Sidoarjo. Jadi, kalau rindu sama teman-teman, kita bisa dengan mudah untuk bertemu. Kegelisahan kedua yakni berpikir tentang lolos atau tidaknya tes SBMPTN untuk masuk di UPN. Dengan kemampuan belajar yang pas-pasan, sulit bagi ku untuk bersaing memperoleh satu kursi di UPN. Tidak sampai...