Sempat gelisah karena tahun 2017 adalah akhir dari masa SMA, dan merupakan awal masa kuliah ku. Berpisah dengan teman yang telah begitu akrab terasa menyedihkan. Berharap bahwa ketika sudah mulai kuliah, juga akan mempunyai banyak teman yang asyik seperti waktu SMA. Pertama sebelum benar-benar mengakhiri masa SMA, pikiran ku fokus pada keinginan universitas mana yang akan aku tempuh nanti. Aku berpikir, bahwa Universitas Pembangunan Nasional “veteran” Jawa Timur atau biasa disebut UPN adalah perguruan tinggi yang cukup baik. Aku ingin menempuh pendidikan disana dengan mengambil jurusan Agribisnis di fakultas pertanian. Lokasinya pun berada di Surabaya, yang mana tidak jauh dari rumah ku yang berada di Sidoarjo. Jadi, kalau rindu sama teman-teman, kita bisa dengan mudah untuk bertemu. Kegelisahan kedua yakni berpikir tentang lolos atau tidaknya tes SBMPTN untuk masuk di UPN. Dengan kemampuan belajar yang pas-pasan, sulit bagi ku untuk bersaing memperoleh satu kursi di UPN. Tidak sampai disini, kegelisahan ketiga adalah ketika memulai pergaulan baru, yakni pergaulan ala cowok maco yang saat berjalan menuju ruang kelas dengan gaya menenteng tas dengan pundak sebelah. Pribadi yang demikian terlihat menarik dan keren dikalangan remaja yang menempuh bangku perkuliahan. Namun menurut ku, kepribadian ini sangatlah mustahil untuk aku lakukan. Secara, aku tidak pernah sekali saja mencoba hal-hal yang pernah dilakukan cowok maco. Contohnya seperti diatas, menenteng tas dipundak sebelah, atau contoh lain ialah minum minuman kaleng dengan satu tangan sambil berjalan, atau yang berkaitan dengan satu tangan lainnya. Kegelisahan ini terjawab satu-persatu pada bulan Juni saat ujian SBMPTN dimulai. Sebelum berangkat menuju lokasi SBMPTN, hal yang wajib dilakukan setelah bangun tidur selain sholat adalah berak. Berak merupakan kegiatan penting sebelum memulai aktivitas. Agar tidak menggangu dipertengahan aktivitas, sebaiknya lakukan berak terlebih dulu. Karena berak juga termasuk sebuah aktivitas paling mengganggu disaat kita sedang mengerjakan aktivitas lainnya. Meskipun tidak ingin berak, pada pagi hari setelah sholat subuh aku selalu melakukannya. Cara agar berak dapat cepat keluar adalah dengan melakukan aksi yang bernama ngeden. Ketika itu setelah berak aku langsung mandi dan segera berangkat untuk mengikuti SBMPTN. Setelah berganti pakaian, aku pamit ke orang tua.
‘Buk, aku berangkat dulu, ya, doain ujiannya lancar’. Kata ku, sambil mencium tangan ibu.
‘Aamiin, iyo, le, ibuk doakan lancar’. Balasnya. 'Ati-ati, Ojok ngebut'.
'Assalamualaikum'.
'Eh, gak salaman karo bapak?'. Tanya ibu.
'Oh, iya, ngapunten, pak, kulo gopoh'. Aku mencium tangan bapak. 'Lali nek dereng salaman’.
'Alasan ae, ojok ngomong nek awakmu lali duwe bapak'. Guraunya, yang terdengar gak ada lucunya sama sekali.
'Iya, pak, iya, assalamualaikum'. Pamit ku.
'Waalaikumsalam'.
Dengan menunggangi kendaraan yang aku beri nama SMP-SMA, atau kepanjangannya adalah supra merah putih sepeda motor arisan, aku langsung berangkat menuju lokasi. Iya, motor itu beli pakai uang arisan ibu, yang modal arisannya pakai uang dari bapak. Tepat 30 menit sebelum ujian dimulai, aku telah sampai di lokasi. Banyak peserta ujian SBMPTN yang berpakaian rapi, bersepatu rapi, tas rapi, mukanya yang gak rapi, sayup-sayup matanya melawan ngantuk, yang aku simpulkan bahwa mereka belajar semalaman demi bisa lulus ujian hari ini. Setelah turun dari motor, aku langsung menuju ruang ujian. Disana aku bertemu dengan cowok yang aku kenal sebagai Dogik. Dogik adalah peserta SBMPTN yang satu ruangan bareng aku.
'Aku Fazrin, teman-teman biasa panggil aku Faz'. Kata ku, sambil menyalami tangannya. 'Mungkin karena simpel dan gak ribet, makanya mereka panggil aku dengan sebutan Faz'.
Dogik tersenyum, senang mengenal ku. 'Haha, aku panggil kamu Faz aja, ya?'.
'Boleh'. Aku tersenyum.
Setelah perkenalan dengan Dogik, aku tertawa dalam hati, sambil bilang, 'untung orangtua ku dulu nggak ngasih aku nama Dogik. Seandainya nama ku adalah Dogik, bisa jadi teman-teman panggil aku dengan sebutan...'.
‘Ayo, Faz’. Tiba-tiba Dogik menarik tangan ku, mengajak masuk kedalam ruangan karena ujian akan dimulai.
*****
'Gak enak e nemen duwe seng serba pas-pasan'. Gerutu ku seusai ujian. 'Utek pas-pasan, rai pas-pasan, opo maneh duwek pas-pasan'.
Aku bergerak menuju kantin, untuk sekedar menjernihkan pikiran serta makan siang. Dari jauh aku melihat Dogik sedang sibuk melihat Handphonenya, aku menghampiri dan mengajaknya ikut makan siang. Senang juga punya teman disaat sendiri begini.
'Makan apa?' Tanya Dogik.
'Aku nasi pecel aja'. Jawab ku.
'Oke, kamu cari tempat duduk, biar aku yang pesenin'. Kata dia.
'Oke'. Aku mencoba mencari tempat duduk, tapi yang aku lihat semua meja telah terisi oleh banyak orang. ‘Damput! Arek-arek iki gak rumongso blas. Seng mangan wong siji, seng lungguh nang mejo onok wong limo’.
Merasa tidak mendapat tempat, aku kembali menemui Dogik untuk mengajaknya membawa makanan kami keluar area kantin.
'Meja kantin sudah penuh semua'. Ucap ku. 'Kita bawa makanan kita ke luar aja, nanti piringnya kita kembalikan kesini lagi'.
'Boleh, deh. Tungguin disini aja sama aku'. Balas Dogik.
Setelah kami menerima pesanan, kami langsung ke luar untuk mencari tempat makan. Kami duduk di sebuah bangku yang berada tidak jauh dari area kantin. Kami makan dengan sedikit berbincang-bincang.
'Oh, iya, aku belum tanya, Gik. Sebenarnya, kamu mau pilih Universitas mana?'. Pertanyaan yang belum sempat aku tanyakan karena pagi tadi keburu masuk jam ujian.
'Aku sih dari dulu pengen banget kuliah di UNESA, ambil jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi'. Kata dia. 'Aku punya impian kalau sudah lulus kuliah, aku mau mengelola perusahaan. Meskipun gak langsung dapat mengelola, sih, Faz. Ya, intinya aku pasti terus belajar untuk bisa menjadi orang yang sukses, aku pengen jadi manajer'.
Aku menelan ludah, membayangkan impiannya begitu besar, begitu sukses, dan dia selalu belajar agar gak lagi punya otak yang pas-pasan. Dogik adalah cowok yang rapi, manis, berbadan ideal. Cocok menjadi seorang manajer dimasanya nanti. Semisal saat ini aku menjadi seorang wanita, mendengar cerita tentang impian Dogik saja aku pasti bilang, 'Aku juga mau bang, jadi bini kamu'.
'Kalau kamu pilih Universitas mana, Faz?' Tanya Dogik begitu selesai cerita.
Gak mau kalah dengan ceritanya, aku menjawab, 'Aku pilih disini, di UPN. Aku pilih Fakultas Pertanian, aku ambil jurusan Agribisnis. Aku suka bisnis'.
Misalnya ada wanita yang mendengar cerita ku, pasti wanita itu bakalan bilang, 'Sok-sokan ngaku suka bisnis, otak aja dibawah standar, pasti sering kena tipu bisnisnya. Gak dadi bojo mu aku gak pateken mas’.
'Oh, gitu, berarti kamu nanti bisa jadi manajer juga kayak aku. Atau enggak jadi karyawan ku. Haha'.
'Karyawan? Mending aku jadi manajer, biar bisa bersaing sama perusahaan mu. Haha'. Balas ku, gak mau kalah.
'Haha, iya, aamiin, kita harus punya pengetahuan yang baik untuk bisa jadi manajer'. Kata Dogik disela makan siangnya.
Dalam hati aku merenung, Dogik bilang, dia perlu terus belajar untuk bisa menjadi manajer. Dogik juga bilang, untuk menjadi manajer, perlu pengetahuan yang baik untuk bisa mencapainya. Sedangkan aku, belajar saja gampang bosan. Aku belajar kalau menjelang ujian saja. Lalu, pengetahuan yang seperti apa yang bisa aku andalkan pada masa ku?. Aku paham, mengapa bapak hanya seorang penjaga toko bangunan, dan ibu hanya seorang ibu rumah tangga. Mereka berdua pernah berkata, pada masa mereka dulu, kondisi ekonomi orangtua mereka tidak begitu bagus. Untuk makan saja, mereka harus ikut orangtuanya bekerja. Bahkan terkadang, mereka hanya makan satu hari sekali. Wajar saja, bapak dan ibu hanya tamat sebagai pelajar SMP. Mungkin kondisi ekonomi lah yang membuatnya tidak dapat melanjutkan sekolah. Dan mengenai pengetahuan, pengetahuan mereka sangat kurang untuk bisa memahami ilmu di era milenial ini. Miris. Meskipun hidup ku saat ini terbilang cukup susah secara ekonomi, tapi ini masih lebih baik dibandingkan kehidupan orangtua ku dulu. Aku tidak perlu ikut bekerja untuk bisa makan, bahkan aku mampu disekolahkan oleh mereka. Pasti, mereka berharap kehidupan yang baik kepada ku. Harapan mereka melebihi harapan ku. Apabila harapan ku hanya untuk ku dan orangtua ku, sebagai orangtua mereka pasti paham, kalau keturunan ku nanti juga harus lebih baik lagi kehidupannya. Pengetahuan yang pas saja tidak cukup, apalagi yang pas-pasan. Aku mengerti, apabila orangtua ku bekerja keras untuk ku, seharusnya aku juga dapat berusaha sekeras mungkin untuk diriku sendiri. Kerja keras adalah kata yang keren dibandingkan dengan kerja malas.
Tidak banyak yang aku bicarakan dengan Dogik, karena mungkin kita baru saling mengenal. Setelah selesai makan, kami berpamitan dan pulang kerumah masing-masing.
*****
Sesampainya dirumah, aku merebahkan badan diatas kasur. Aku terbayang, apakah Dogik akan selalu mengenal ku? Atau mungkin aku hanya sebatas teman yang pernah dikenalnya dalam kurun waktu yang sangat singkat. Mungkin kalau kita bertemu kembali di sebuah momen, dia sudah enggak kenal aku lagi, dan kita perlu berkenalan kembali untuk saling mengetahui. Aku berharap momen itu ada, bisa jadi kita berdua bertemu sebagai manajer yang membahas dan mengelola bisnis, atau sebagai manajer dan karyawan yang pernah dia katakan. Sudahlah, aku tidak ingin memikirkan itu sementara ini. Dua minggu lagi pengumuman SBMPTN akan diumumkan secara online. Semoga, aku mendapat satu kursi di UPN, meskipun aku hanya mengerjakan soal dengan otak yang pas-pasan.
*****
Masih panjang kelanjutannya. Sampai disini kamu sudah baca. Apakah kamu suka? Atau cinta? Tapi jangan menghina.
Beri komentar kamu disini, atau DM instagram juga bolehOke, terimakasih sudah berkunjung disini. Sampai jumpa pada cerita kelanjutannya. Hati-hati di jalan ya.
Comments
Post a Comment