Beberapa hari menjelang pengumuman tes SBMPTN, aku lebih giat berdoa, berharap benar-benar bisa mendapatkan satu kursi di UPN. Malam itu, didalam kamar, setelah melaksanakan sholat sunnah, aku menangis dalam keheningan. Aku menutup wajah dengan peci, bersujud merasakan betapa lemahnya menjadi seorang hamba yang tidak sempurna. Aku merenung, entahlah, akhir-akhir ini aku memang sangat menginginkan bisa masuk bangku perkuliahan seperti apa yang aku harapkan, tetapi aku sadar, aku hanya benar-benar "serius" berdoa saat menjelang pengumuman itu tiba. Padahal, jauh-jauh hari sebelum mengikuti SBMPTN, aku berdoa sesempatnya saja, bahkan aku juga sering tidak berdoa setelah selesai sholat. Aku merasa sangat berdosa, sangat menyesal, sangat tidak berdaya. Aku terlalu lemah untuk tetap bernafas di dunia. Tuhan, aku menjadi seperti ini karena tidak tahu diri, atau telah melupakan keberadaan-Mu? Cepat jawab Tuhan.
Aku kacau, sulit mengendalikan diri. Aku seperti menuntut Tuhan untuk selalu memberi ku apa yang aku mau, dan aku merasa tidak berdosa dalam tuntutan ku itu. Malam itu dalam renungan ku, mungkin Tuhan telah menegur, bahwa banyak sekali dosa yang aku perbuat, tetapi tidak sekalipun aku bertaubat.
Pipi yang berlinang air mata mulai mengering, menandakan bahwa tangis ku cukup lama telah berhenti. Aku duduk bersila diatas sajadah sambil memejamkan mata. Aku mendengar suara langkah kaki dari belakang tempat aku duduk. Aku menengoknya, rupanya ibu ku menghentikan langkahnya dan melihat ku dari luar kamar. 'Kok belum tidur, le?'. Tanya dia.
'Inggih, habis ini aku tidur, buk'.
'Yo, wis, ndang turu, wis bengi'. Kata ibu sambil melanjutkan langkahnya.
'Ibuk mau kemana?'. Tanya ku.
'Nang kamar mandi'. Jawabnya dari kejauhan.
Sisa malam kini aku habiskan dengan tidur. Ketika mata terpejam, masih terasa sulit untuk bisa terlelap. Suatu keinginan yang datang berupa hayalan malam itu benar-benar membuat ku dilema dan tidak nyaman. Banyak harapan yang aku semogakan benar-benar dikabulkan sesuai kemauan. Saat ini badan terasa lelah, ingin tidur tapi tidak bisa. Aku persis seperti orang yang sedang jatuh cinta, menghayal dan susah tidur, tapi, dilema pun juga sama, bikin susah tidur. Bahkan hingga pukul 02.30, mata masih seger, gak ada ngantuk-ngantuknya. Entah bagaimana akhirnya, aku pun tertidur.
Pada hari berikutnya, aku menjalani dengan banyak berdoa. Memang keadaan seperti ini membuat hati gelisah, kesabaran benar-benar diuji, hingga hal yang tidak terduga aku alami. Setelah sholat dzuhur, aku mengambil Hanphone dan melihat ada notifikasi pesan dari teman ku, Putri. Dalam kolom chat BlackBerry Messenger, dia menyapa ku sekaligus bertanya.
Putri: 'PING!!!'
'Faz'.
'Gimana SBMPTN mu?'.
Putri adalah cewek yang pernah aku sukai sejak masih SMA. Dulu aku naksir banget sama dia. Kami berbeda kelas, aku kelas IPA, dia kelas IPS. Setiap kali dia lewat didepan pintu kelas ku, dari dalam kelas aku selalu memperhatikannya. Matanya belo, pipinya sedikit tirus, banyak mengembang, alias tembem. Rambutnya ikal, tertata rapi. Aku suka saat melihat rambutnya dikuncir, membuat wajahnya tampak natural. Dia sangat menarik bagi ku. Kami pernah menjadi delegasi dari pihak SMA untuk mengikuti lomba melukis di tingkat kabupaten. Aku dan Putri saling mendukung dalam perlombaan itu. Putri pernah bilang kepada ku, kalau sebenarnya dia itu nggak jago melukis, dia hanya hobi saja. Aku pun tertawa mendengar pengakuannya tersebut, aku bilang kalau aku pun sama, aku nggak jago melukis, hanya hobi saja. Kemudian kami berdua pun tertawa bersama, kami menikmati momen itu. Dalam hati aku berkata bahwa ini adalah kesempatan yang diberikan oleh sekolahan agar kami bisa menjalin hubungan menjadi lebih dekat lagi, hahaha. Sampai pada suatu saat teman ku bilang, bahwa Putri menyukai ku. Aku senang sekaligus bingung, tidak menyangka keadaan bisa seadil ini. Aku berusaha untuk bisa meyakinkan dia bahwa aku juga menyukainya. Dalam usaha ku, kami berdua menjadi sering chat hingga larut malam, telfonan hingga telinga panas, sampai ketiduran tanpa disadari. Aku berhasil membuat hubungan kami menjadi dekat, kami saling perhatian, tapi sayang, kami gak pernah jadian. Keadaan ini adalah dimana aku berharap lebih, tapi dapatnya kurang.
Dengan sedikit basa-basi aku balas,
Aku: 'Hai Put, sejak kapan ya kita tidak pernah chat lagi? Hehe'.
Sedikit basa-basi dapat mencairkan suasana saat kita bertemu atau sedang menyapa teman lama. Gak perlu bingung untuk nyari bahan buat basa-basi, cukup tanyakan kabarnya saja dia sudah paham. Bagi yang nggak paham, mungkin dia akan baper, hati-hati.
Putri:, 'Hehe kapan ya?, sudah cukup lama sih, hehe. Gimana SBMPTN mu, Faz?, ambil kuliah dimana?'.
Aku: 'Alhamdulillah lancar, aku ambil kuliah di UPN, pengen masuk Agribisnis. Sekarang cukup deg-degan sih, soalnya sebentar lagi pengumuman. Kamu sendiri gimana? Jadi pilih UNESA?'.
Dulu sebelum lulus sekolah, Putri pernah bilang kalau dia ingin kuliah di Universitas Negeri Surabaya, dia ingin masuk jurusan manajemen melalui SBMPTN, dia sama sekali tidak mengharapkan SNMPTN. Bagi Putri, SBMPTN adalah sebuah kemampuan diri sendiri dalam belajar, yang apapun hasilnya tidak akan sia-sia, itulah kemampuannya, tidak ada kerugian lolos atau tidak dalam tes nantinya. Namun bagi ku, SNMPTN adalah sebuah kesempatan yang memang dibutuhkan. Sebagai penyandang kecerdasan di level yang pas-pasan, aku sangat berharap bisa lolos seleksi melalui SNMPTN.
Putri: 'Hahaha, terus berdoa, Faz. Alhamdulillah, aku pilih UNESA. Deg-degan juga, sih, karena sebentar lagi pengumuman'.
Aku: 'Semangat, ya, kamu juga harus terus berdoa'.
Putri: 'Makasih, kamu juga harus semangat, Faz'.
Pada hari berikutnya, Putri tidak lagi menghubungi ku, aku pun demikian. Aku rasa memang tidak ada lagi sesuatu yang perlu dibicarakan. Sebenarnya aku ingin menghubungi dia kembali, namun aku enggan melakukannya. Mungkin Putri saat ini juga sama seperti aku, enggan menghubungi kembali. Entahlah.
Hingga tiba saat hari pengumuman hasil tes itu tiba, pada pagi hari Putri menghubungi ku, dia bilang dia ingin datang ke rumah ku. Maka, disinilah kami sekarang, duduk di kursi teras rumah ku. Ini adalah perjumpaan pertama kami setelah beberapa bulan tidak bertemu. Pertama kali aku melihat wajahnya, matanya tampak cerah serta senyum manis yang mengembang dibibirnya. Ketika dia tersenyum, aku tidak mengerti ada alasan apa dia melakukan itu. Aku yang senang melihat senyumnya, terasa bibir ku mengembang tanpa aku sadari. Aku tersenyum kepadanya. Cerita pun terus bergulir, dia menceritakan pengalaman tentang bagaimana selalu belajar meskipun telah lulus sekolah. Putri menyeruput segelas susu putih yang sebelumnya aku siapkan buat dia. Kemudian dia menoleh kearah ku, 'Aku belum dengar cerita mu saat mengikuti SBMPTN'.
'Emm, iya, susah', kata ku. 'Lumayan sih sebenernya, aku bisa dapat pengalaman belajar yang berbeda'.
Putri tersenyum, 'Hahaha, makanya, belajar tuh dikembangkan, biar kecerdasan mu semakin naik, bego'.
'Aku nggak se-bego yang kamu kira, kecerdasan ku nggak bisa naik karena aku ingin tetap lurus, meluruskan dari kesalahan untuk kebenaran'. Balas ku tidak terima, yang tentunya hanya bercanda.
'Lurus apa? Lurus ke bawah?'
Oke, disini aku mulai terhina. Lalu kami bercerita tentang sesuatu yang lain, seperti: cerita tentang hubungan kami. Pada saat kami kelas sebelas, aku yang pertama kali naksir putri. Saat itu Putri tidak tau kalau aku mulai naksir dia. Beberapa kesempatan untuk bicara dengannya selalu aku manfaatkan, diantara kesempatan itu aku pernah berhasil berbincang cukup lama dengan dia saat kami hanya tinggal berdua disekolah karena motor ku mogok sedangkan dia tidak ada yang menjemputnya. Sekolah benar-benar sepi karena sudah dua jam yang lalu bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku yang bingung karena motor tidak bisa menyala, akhirnya menepi ke pinggir lapangan. Aku duduk dan hanya melamun saja. Aku memandang motor sambil menggerutu, 'Hancok, mogok maneh, asu!'. Rasanya sedikit lebih lega karena pisuhan yang aku ucapkan. Memang, berkata kasar saat sedang emosi rasanya sedikit melegakan, entah jurus psikologi apa yang terkandung pada kalimat itu. Melihat ruang kelas dari kejauhan, tidak sengaja mata ku melihat Putri yang sedang duduk sendirian sembari memainkan handphonenya. Dari kejauhan pula, aku berdiri, lalu memanggilnya, 'Putri'.
Saat aku panggil, Putri seperti memicingkan matanya, lalu dia berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah ku. Setiap langkahnya yang semakin mendekat kepada ku, jantung ku semakin berdegup kencang, keringat dingin bercucuran, badan terasa kaku, dan pandangan mulai gelap. Saat dia berada disamping ku, dia menyapa, 'Hai'.
Seketika tubuh ku pun jatuh, aku tidak sadarkan diri. Tidak, aku tidak lemah seperti itu.
'Ada apa, Faz?' Tanya putri.
'Kamu, kok, belum pulang, ngapain?' Tanya ku biasa saja, padahal didalam hati aku berkata, 'Hancok, Put! Aku seneng pol awakmu onok nang kene, cuma karo aku, gak onok liyane'.
'Aku nunggu dijemput ayah, tapi ayah pulang dari kantor jam dua, biasanya, kan, aku dijemput ibu.' Jawabnya.
Lagi-lagi hati ku berkata, 'Halah, gak usah ngenteni bapak mu utowo ibuk mu, tak susul budal-moleh loh aku gelem'.
'Oh, iya, Put, kapan-kapan kalau kamu belum pulang, coba bilang aku aja, pasti aku antarin.' Ini adalah jawaban ku yang kebetulan berani, alias keceplosan.
'Hehe, enggak, Faz, gak papa, aku emang selalu diantar jemput'.
Kami sepakat cerita sampai disini. Cerita memang baru saja dimulai, tapi cerita juga baru saja selesai.
*****
Cerita tentang masa lalu, tapi enggak dilanjutin. Simak judul berikutnya.
Kak, kenapa gak di lanjut'in ceritanya?
ReplyDeleteAku penasaran sama lanjutan nya kak. Trus Kak faz, jadi masuk univ apa? Btw, kenpa kakak kok gak jadian sama putri? Kak faz g berani nembak putri ya?
ReplyDeleteTerimakasih sudah baca. Ada alasan yang bikin salah paham, mungkin lain kali dilanjut dengan cerita yang berbeda.
Delete